Pemimpin Idaman

Jadi teringat dengan pidato Abu Bakar Ash Shidiq ketika pertama kali dilantik sebagai Khalifah pertama menggantikan peran kepemimpinan Rasulullah. Beliau Menyatakan sebagai berikut:

Amma ba’du, saudaraku sekalian sesungguhnya aku telah terpilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalin, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah akau. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhiatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya Insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka suatu kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian terbesar di tengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajiban taat atas kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian… [1]

Oleh karena itu, pesan singkat penulis adalah pilihlah pemimpin kalian dengan bijak, karena ia merupakan representasi dari siapa yang memilihnya menjadi pemimpin…

Siap Memimpin dan Siap Dipimpin

[1] Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah 4/413-414, tahqiq Hamma Sa’id dan Muhammad Abu Suailik

Bersambung…

Ternyata Kita Belum Saling Memahami (?)

oleh Akheededi

Dalam Islam, saling memahami adalah salah satu cara untuk menyatukan hati, menyatukan pemikiran, menyatukan visi dan cita-cita, bahkan juga menyatukan amal dan kinerja nyata. Dengan sikap saling memahami inilah, Baginda Rasul mengajarkan kepada kita untuk menunjukkan identitas keIslaman kita dengan aura yang terpancar dari akhlak ini. Dan dengan sikap saling memahami ini juga lah yang merupakan cikal bakal terbentuknya amal kerjasama yang apik. Read more of this post

Kaidah-Kaidah dalam Menghafal Al Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab yang dijamin Allah subhanahu wa ta’ala akan selalau terjaga dari perubahan, penggantian, penambahan, dan pengurangan isi.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Berikut ini adalah sebagian dari kaidah-kaidah umum yang bisa membantu Anda untuk menghafal Al-Qur’an guna mendapatkan kedudukan yang agung sebagai seorang hafizh.

• Membatasi Porsi Hafalan Setiap Harinya

Sebaiknya seseorang yang hendak menghafal Al-Qur’an untuk membatasi hafalannya untuk setiap harinya. Misalnya, hanya beberapa ayat saja, satu halaman atau dua halaman dari Al-Qur’an, atau seperdelapan juz, dan seterusnya. Lalu, setelah membatasi hafalan dan membenarkan bacaan, mulailah dengan melakukan pengulangan (muraja’ah).

• Sebaiknya Menghafa tidak Melebihi Batasan Harian, Sampai Anda Dapat Menghafalnya Secara Sempurna

Bagi hafizh Al-Qur’an, sebaiknya menghindari beralih kebatasan hafalan yang baru, kecuali ia telah menyempurnakan dengan baik batasan hafalan sebelumnya. Hal itu supaya apa yang telah dia hafal benar-benar terpatri ke otak.

• Hindari Beralih ke Surat Lain Sebelum Anda Benar-benar Hafal

Usai selesai satu surat Al-Qur’an, tidak seharusnya bagi hafizh beralih ke surat lain, kecuali setelah ia menghafalnya secara sempurna dan mengikat antara awal dan akhir surat tersebut. Lisannya juga menghafalnya secara gampang dan mudah, tanpa bersusah payah mengingat-ingat ayat-ayat yang dihafal dan menyempurnakan bacaan.

• Senantiasa Memperdengarkan Hafalan Anda

Wajib bagi seorang hafizh tidak menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Akan tetapi, ia sebaiknya memperdengarkan hafalannya kepada hafizh yang lainnya atau mencocokkannya dengan mushaf.

Ini bertujuan supaya seorang hafizh mengetahui adanya kesalahan bacaannya atau adanya bacaan yang terlupakan sebab banyak dari kita salah dalam membaca sebuah surat dan tidak menyadarinya meskipun sambil melihat mushaf. Hal ini karena ia banyak membaca tetapi tidak teliti.

• Menfaatkanlah Usia Emas Untuk Menghafal

Usia tersebut adalah usia dari 5 tahun sampai kira-kira 23 tahun. Pada usia ini, kekuatan hafalan manusia sangat bagus. Bahkan ia merupakan tahun-tahun emas yang sangat berharga untuk menghafal.

Sumber:

Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an, Dr. Raghib As-Sirjani dan Dr. Abdurrahman Abdul Khaliq: Aqwam

Metode Menghafal Al Qur’an

Berikut ini adalah salah satu dari metode bagi anda yang mau menghafal ayat-ayat dalam al Qur’an. Tapi yang perlu diperhatikan sebelumnya bahwa,

Obat terbesar dalam menghafal dan memahami adalah taqwa kepada Allah SWT. “Bertaqwalah kepada Allah, niscaya Dia mengajarimu”

Imam Syafi;i berkata, “Aku mengadukan perihal keburukan hafalanku kepada guruku, yang bernama Imam Waki’, lalu guruku berwasiat agar aku menjauhi maksiat dan dosa. Guruku kemudian berkata: ‘Muridku, ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang maksiat’”.

Adapun langkah-langkah menghafal al Qur’an, sebagai berikut:

  1. Hendaklah permulaan hafalan al Qur’an dimulai dari surat An Naas lalu al Falaq, yakni kebalikan dari urutan surat-surat al Qur’an. Cara ini akan memudahkan tahapan dalam perjalanan menghafal Al Qur’an serta memudahkan latihan dalam membacanya di dalam shalat baik.
  2. Membagi hafalan menjadi dua bagian. Pertama, hafalan baru. Kedua, membaca al Qur’an ketika shalat.
  3. Mengkhususkan waktu siang, yaitu dari fajar hingga maghrib untuk hafalan baru.
  4. Mengkhususkan waktu malam, yaitu dari adzan Maghrib hingga adzan Fajar untuk membaca al Qur’an di dalam shalat.
  5. Membagi hafalan baru menjadi dua bagian: Pertama hafalan. Kedua, pengulangan. Adapun hafalan, hendaknya ditentukan waktunya setelah shalat fajar dan setelah Ashar. Sedangkan pengulangan dilakukan setelah shalat sunnah atau wajib sepanjang siang hari.
  6. Meminimalkan kadar hafalan baru dan lebih memfokuskan pada pengulangan ayat-ayat yang telah dihafal.
  7. Hendaklah membagi ayat-ayat yang telah dihafal menjadi tujuh bagian sesuai jumlah hari dalam sepekan, sehingga membaca setiap bagian dalam shalat setiap malam.
  8. Setiap kali bertambah kadar hafalan, maka hendaklah diulangi kadar pembagian pengelompokan pekanannya agar sesuai dengan kadar tambahan.
  9. Hendaklah hafalannya persurat. Jika surat tersebut panjang, bisa dibagi menjadi beberapa ayat berdasarkan temannya. Tema-tema yang panjang juga bisa dibagi menjadi dua bagian atau lebih. atau dapat juga dikumpulkan surat-surat atau tema-tema yang pendek menjadi satu penggalan. Yang penting pembagian tersebut tidak asal-asalan, bukan berdasarkan berapa halaman atau berapa barisnya.
  10. Tidak dibenarkan dan tidak diperbolehkan sama sekali melewati surat apapun sampai ia menghafalnya secara keseluruhan, seberapa pun panjangnya. Dan setelah menghafalnya secara keseluruhan, maka hendaklah diulang-ulang beberapa kali dalam tempo lebih dari satu hari.
  11. Apabila di tengah shalat malam mengalami kelemahan dalam hafalan sebagian surat, maka hendaklah dilakukan pengulangan kembali disiang hari di hari berikutnya. Dalam kondisi seperti ini, tidak dibenarkan memulai hafalan baru. Kebanyakan hal seperti ini terjadi di awal-awal hari setelah menyelesaikan hafalan baru.
  12. Sangat dianjurkan sekali untuk memperdengarkan surat-surat yang akan digunakan dalam shalat malam kepada orang lain.
  13. Sangat baik mendidik anggota keluarga dengan metode ini. Caranya dengan membuat jadwal pekanan bagi setiap anggota keluarga dan memperdengarkan hafalan kepada mereka di siang hari, mengingatkan kepada mereka, memotivasi mereka untuk membacanya ketika shalat malam, serta membekali mereka supaya bisa berlatih sehingga tumbuh berkembang diatas al Qur’an. Dan al Qur’an bisa menjadi teman bagi mereka yang tidak bisa lepas darinya dan tidak kuasa untuk berpisah dengannya. Serta bisa menjadi lentera yang menerangi jalan kehidupan mereka.
  14. Hendaklah memperhatikan cara membacanya. Bacaan harus tartil (perlahan) dan dengan suara yang terdengar oleh telinga. Bacaan yang tergesa-gesa walaupun dengan alasan ingin menguatkan hafalan baru adalah bentuk pelalaian terhadap tujuan membaca al Qur’an (untuk memperoleh ilmu, untuk diamalkan, untuk bermunajat kepada Allah, untuk memperoleh pahala, untuk berobat dengannya).
  15. Tujuan dari menghafal al Qur’an bukanlah untuk menghafal lafadz-lafadznya dalam jumlah yang banyak. tetapi tujuannya adalah mengulang-ulang surat yang telah dihafal dalam shalat dengan niatan, mentadabburi al Qur’an. tetapi apabila mampu menghafal banyak surat sesuai apa yang telah disebutkan diatas, itu lebih utama dari pada sedikit menghafal. Yang terpenting adalah menerapkan kaidah diatas. Apabila menurutmu waktu sangat sempit maka ambillah kadar yang sedikit namun terus diulang-ulang.

Disadur dari dkmfahutan.wordpress.com

Tafsir Filosofi Gerakan KAMMI

logo-kammi-revisi

A. Definisi Visi, Misi, dan Paradigma

Dalam makna global, visi merupakan esensi dari sebuah ide besar yang terlintas dalam benak seseorang atau sebuah organisasi yang pada intinya menyangkut masa depan ke mana seorang atau organisasi hendak diarahkan hingga menghasilkan suatu karya yang konsisten dan dinamis. Seperti mimpi, sebuah visi terkesan hanya sebuah angan-angan. Yang membedakan hanyalah tataran misi dan strategi yang jelas dan terencana. Sehingga visi tersebut terealisasikan dengan aksi-aksi yang jelas, dan terukur. Dan tentunya yang akan membedakan antara visi dengan mimpi atau angan-angan kosong yang tanpa aksi. Namun sebaliknya, jika sebuah aksi-aksi dilakukan tanpa sebuah visi dan perencanaan yang jelas, energi dan usaha yang terkeluarkan hanya sebuah hasil tanpa makna.

Begitu pula dengan misi. Secara garis besar, misi merupakan suatu tahapan dalam rangka perwujudan atau pencapaian sebuah visi. Dengan penjabaran rumusan sebuah visi akan dihasilkan misi-misi yang merupakan grand design dari beberapa langkah strategis untuk pencapaian visi tersebut. Konsep ideal dari visi-misi yang akan melahirkan aksi-aksi yang strategis diterjemahkan lagi menjadi sebuah tujuan. Maksudnya adalah sebuah cita-cita yang lebih riil dari visi-misi tersebut. Sehingga dengan acuan visi-misi maka tujuan seseorang atau sebuah organisasi dapat ditentukan yang nantikan tercermin dalam setiap program kerja.

Sebuah visi yang dijabarkan secara global dalam misi, memiliki keterkaitan dengan sebuah paradigma atau cara pandang seseorang atau organisasi mengenai sesuatu hal. Paradigma inilah yang mengantar pemikiran seseorang terhadap sesuatu dari sisi yang berbeda. Dan dari paradigma inilah yag akan membingkai pemahaman sesorang akan sesuatu hal. Keterkaitannya dengan visi-misi dalam sebuah organisasi, memungkinkan menyeiramakan pergerakan organisasi tersebut agar tetap dalam bingkai yang telah direncanakan dan ditentukan. Hal ini lah yang akan menuntun dalam pencapain visi melalui garis besar kerja sebuah misi.

B. Definisi dan Tafsir Visi, Misi, serta Paradigma Gerakan KAMMI

Berdasarkan Risalah Manhaj Kaderisasi 1427 H KAMMI, landasan filosofi gerakan KAMMI mencakup visi, misi, prinsip, karakter organisasi, paradigm gerakan, unsur-unsur perjuangan dank redo gerakan KAMMI. Namun yang akan diulas dalam bahasan kali ini hanyalah visi, misi dan paradigm gerakan KAMMI.

Visi KAMMI

KAMMI adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin bangsa masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia.

Berdasarkan visi tersebut, dapat ditafsirkan bahwa pergerakan KAMMI naungan pergerakan yang mencita-citakan lahirnya kader-kader pemimpin bangsa untuk mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia. Krisis multidimensi yang berkepanjangan bagi bangsa ini, telah mengantarkan KAMMI menjadikan dirinya sebagai organisasi pengkaderan pemuda muslim yang merupakan langkah praktis untuk mengembalikan kemuliaan diri dan bangsa umat Islam. Wadah perjuangan permanen dapat diartikan sebagai naungan organisasi yang konsisten menggemakan suara kebenaran, hingga win-win solutions bagi kemajuan bangsa ini. Perjuangan permanen yang melahirkan kader-kader pemimpin bangsa ini mengindikasikan pula bahwa KAMMI dalam filosofi pergerakannya mencita-citakan lahirnya kader-kader penerus bangsa dengan kultur keIslaman dan kuatnya pondasi keimanan, sehingga kekuatan bangunan internal KAMMI memungkinkan untuk terus melakukan perjuangan dari ketidakadilan. Sementara itu, masyarakat islami merupakan tujuan pergerakan KAMMI. Dalam hal ini, Islam yang sebagai rahmatan lil ‘alamin mampu menjadi solusi utama dari permasalahan bangsa, sehingga dari kehidupan bernegara baik dari sektor nasional hingga yang sektor terkecil dalam suatu bangsa, mencirikan kekhasan dan keistimewaan ajaran Islam yang dapat diaplikasikan dalam setiap aspek kehidupan.

Misi KAMMI

1. Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia.
2. Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik mahasiswa.
3. Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rabbani, madani, adil, dan sejahtera.
4. Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.
5. Mengembangkan kerjasama antar elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar).

Dari misi KAMMI tersebut, tergambarkan secara global bahwa ada keterikatan yang searah dengan visi yang dicita-citakan oleh KAMMI. Hal ini dapat dilihat dari kelima misi tersebut yang menyeluruh dalam pencapaian visi tersebut. Pembinaan keimanan, keislaman, dan ketaqwaan mahasiswa muslim menjadi langkah riil pertama yang dilakukan KAMMI sebelum melakukan aksi perjuangan dan pergerakan KAMMI itu sendiri. Sebab inilah modal utama seorang muslim dalam setiap aktifitasnya. Keimanan, keislaman, dan ketaqwaan menjadikannya selalu berada dalam bingkai ketundukan pada Allah swt semata.

Selanjutnya, potensi dakwah, daya intelektual, sosial, dan politik mahasiswa merupakan modal selanjutnya yang harus digali, dikembangkan, dan dimantapkan, sehingga dapat memacu pergerakan dan perjuangan KAMMI untuk terus menggelorakan semangat reformasi dan perbaikan dalam segala bidang. Dengan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik menjadikan kader KAMMI mampu untuk memberikan solusi dan melakukan perubahan yang signifikan bagi bangsa ini. Di lain sisi, masyarakat madani, rabbani, adil, dan sejahtera yang merupakan cita-cita pergerakan KAMMI dilakukan dengan pencerahan dan peningkatan kualitas masyarakat Indonesia. Begitu pula dengan penyelesaian permasalahan bangsa, dilakukan dengan langkah strategis dalam mengoptimalkan peran mahasiswa Indonesia, yaitu dengan mempelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerja sama antar mahasiswa, dan elemen lain yang memiliki kesamaan tujuan untuk perbaikan bangsa. Khusus untuk pengembangan kerja sama antar elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar), mengantarkan KAMMI mencapai cita-cita mulia, yaitu masyarakat madani, rabbani, adil dan sejahtera.

Paradigma Gerakan KAMMI
1. KAMMI adalah Gerakan Da’wah Tauhid

Tafsir dari kalimat tersebut adalah
a. Gerakan Da’wah Tauhid adalah gerakan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaan terhadap materi, nalar, sesama manusia dan lainnya, serta mengembalikan pada tempat yang sesungguhnya: Allah swt.
b. Gerakan Da’wah Tauhid merupakan gerakan yang menyerukan deklarasi tata peradaban kemanusiaan yang berdasar pada nilai-nilai universal wahyu ketuhanan (ilahiyyah) yang mewujudkan Islam sebagai rahmat semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).
c. Gerakan Da’wah Tauhid adalah gerakan perjuangan berkelanjutan untuk menegakkan nilai kebaikan universal dan meruntuhkan tirani kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar).

2. KAMMI adalah Gerakan Intelektual Profetik
Tafsir dari kalimat tersebut adalah
a. Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal.
b. Gerakan Intelektual Profetik merupakan gerakan yang mengembalikan secara tulus dialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal.
c. Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik.

3. KAMMI adalah Gerakan Sosial Independen
Tafsir dari kalimat tersebut adalah
a. Gerakan Sosial Independen adalah gerakan kritis yang menyerang system peradaban materialistic dan menyerukan peradaban manusia berbasis tauhid.
b. Gerakan Sosial Independen merupakan gerakan cultural yang berdasarkan kesadaran dan kesukarelaan yang berakar pada nurani kerakyatan.
c. Gerakan Sosial Independen merupakan gerakan pembebasan yang tidak memiliki ketergantungan pada hegemoni kekuasaan politik-ekonomi yang membatasi.

4. KAMMI adalah Gerakan Politik Ekstraparlementer
Tafsir dari kalimat tersebut adalah
a. Gerakan Politik Ekstraparlementer adalah gerakan perjuangan melawan tirani dan menegakkan demokrasi egaliter.
b. Gerakan Politik Ekstraparlementer adalah gerakan social cultural dan struktural yang berorientasi pada penguatan rakyat secara sistematis dengan melakukan pemberdayaan institusi-institusi sosial/rakyat dalam mengontrol proses demokrasi formal.

C. Urgensi Visi, Misi, dan Paradigma bagi Gerakan KAMMI

Jika ditinjau dalam filosofi gerakan KAMMI, urgensi visi, misi, dan paradigma bagi gerakan KAMMI yang sangat vital adalah sebagai landasan utama dan spirit perjuangan yang menjiwai gerakan KAMMI. Dari filosofi gerakan inilah diharapkan lahirnya kader-kader KAMMI dengan kultur gerakan yang khas dan istimewa. Sehingga ciri yang melekat dari kader yang ingin dihasilkan dari filosofi gerakan ini adalah integritas dan progresivitas kader di medan amal perjuangan Islam. Selain itu, keterkaitan visi-misi, dan paradigma bagi gerakan KAMMI sangat menentukan keseuaian pergerakan KAMMI dengan hal yang dicita-citakan, sehingga penentuan langkah strategis yang harus diambil tidak menyimpang dari landasan filosofi gerakan KAMMI.

4. Kesimpulan

KAMMI yang merupakan wadah permanen pergerakan dan perjuangan kemahasiswaan Indonesia, mendambakan perubahan yang signifikan bagi bangsa Indonesia dan keluar dari keterpurukan krisis multi dimensi yang melanda bangsa ini. Hal ini terlihat jelas dari visi yang ingin dicapai KAMMI beserta misi-misi pendukungnya. Lebih jauh lagi, berdasarkan landasan filosofi gerakan KAMMI yang mencakup visi, misi, prinsip, karakter organisasi, paradigma gerakan, unsur-unsur perjuangan dan kredo gerakan KAMMI, menjadikan KAMMI tetap berada dalam bingkai keIslaman. Landasan filosofi gerakan inilah yang merupakan landasan utama dan spirit perjuangan yang menjiwai pergerakan KAMMI. Dan dari landasan filosofi inilah diharapkan lahirnya kader-kader KAMMI dengan kekhasan dan keistimewaan yang tidak ada pada organisasi kemahasiswaan lainnya. Sementara itu, berdasarkan Risalah Kaderisasi Manhaj 1427 H, ciri yang melekat dari landasan filosofi ini adalah integritas dan progsetivitas kader di medan amal perjuangan Islam, dan mendambakan kejayaan umat Islam yang lahir dari pergerakan pemuda Islam. Oleh karena itu, KAMMI diharapkan dapat membawa angin segar bagi bangsa ini.

@kheededi_

waktu mau berangkat DM2…