Muhasabah Sang Teknolog

sujudHampir mustahil di dunia sekarang ini mendapatkan saintis dan teknolog seperti yang Allah kehendaki. Yang hatinya kenal, cinta dan takut Allah. Yang hatinya senantiasa bersama Allah, merasa diawasi Allah. Yang setiap perbuatannya, hidup matinya, detak jantungnya, turun naik nafasnya semata-mata untuk dan karena Allah seperti yang dijanjikan dalam sholatnya, bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah semata-mata untuk Tuhan sekalian alam. Karena kesungguhannya untuk menjadi orang Allah, maka dia dibantu oleh Allah dalam tugas-tugasnya mengembangkan sains dan teknologi, sehingga lahirlah berbagai teori, inovasi dan produk-produk yang canggih, maju dan sangat bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan.

Hampir mustahil di dunia sekarang ini mendapatkan saintis dan teknolog yang semakin mengkaji dan mengembangkan sains serta berkecimpung dalam teknologi, semakin mereka kenal, cinta dan takut dengan Allah, semakin mereka terasa kebesaran dan keagungan Allah serta kelemahan dan kekerdilan diri, semakin rendah hati, semakin berakhlak mulia, semakin hebat berkorban, semakin hebat berjuang dalam menegakkan hukum-hukum dan aturan Allah.

Hampir mustahil di dunia sekarang ini mendapatkan saintis dan teknolog yang rendah hati, pemurah, tidak ego, tidak sombong, tidak bangga diri, pemaaf, sabar, tidak merasa hebat dan lain-lain lagi akhlak mulia. Saintis dan teknolog yang di siang harinya banyak membuat inovasi dan produk-produk baru, yang canggih, inovatif dan bermanfaat bagi manusia, tetapi di malam harinya menangis karena takut tidak dapat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas semua nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya. Saintis dan teknolog yang selamat di dunia dan akhirat dan menghasilkan produk-produk yang menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat.

Para saintis, teknolog dan cendikiawan yang ada sekarang ini di dunia belum menghubungkaitkan antara sains dan teknologi dengan ibadah, dengan Allah dan dengan perjuangan di jalan Allah. Dunia saintis dan teknolog hari ini menganggap sains dan teknologi tidak ada hubungan dengan Allah, ibadah, Rasulullah SAW dan hari akhirat. Kalaupun hubung kait itu disebut-sebut dan diperkatakan, tapi ia sebatas itu saja. Dalam praktek keseharian, hal itu belum nampak lagi.

Misalnya, bila ada kecelakaan pesawat terbang yang terlintas dan sibuk dibuat adalah mencari sebab-sebab lahir dengan mencari ‘black box’ dan membuat hipotesis sebab jatuhnya pesawat tersebut misalnya karena adanya ‘unpredictable propagation crack di wing spar’; ‘stress corrosion’; ‘human error’; ‘one engine out’ dan sebagainya. Begitu juga ketika ada gempa bumi hebat yang membunuh ribuan manusia dan menghancurkan bangunanbangunan, maka yang dicari oleh para saintis adalah penyebab-penyebab lahir misalnya letupan gunung berapi, gerakan tektonik lempeng bumi dan sebagainya. Faktor kuasa dan kehendak Allah tidak pernah atau jarang diperhitungkan. Seolah-olah sains dan teknologi bukan urusan manusia dengan Allah.

Urusan manusia dengan Allah hanyalah shalat, zakat, puasa, haji dan berbagai ibadah ritual lainnya. Padahal faktor kekuasanaan dan kebesaran Allah inilah semestinya yang pertama direnungkan. Saintis dan teknolog yang bertaqwa akan mencari dan memahami maksud teguran Allah. Mereka sadar bahwa jangankan sebuah pesawat terbang jatuh, gempa bumi dan tsunami yang membunuh puluhan atau ratusan ribu manusia, bahkan kaki tertusuk duripun merupakan teguran dari Allah, sesuai dengan hadist Rasulullah SAW. Bencana demi bencana terjadi menimpa umat manusia baik yang dibuat oleh Allah melalui banjir, gempa bumi, gunung berapi, tsunami ataupun akibat perbuatan tangan manusia dengan bantuan teknologi seperti peperangan, ledakan bom, kebocoran nuklir dan lain-lain, tapi manusia tidak mengambil hikmah dan pengajaran. Manusia tidak semakin beriman, tidak semakin cinta dan takut dengan Allah. Akhirnya manusia akan rugi di dunia dan di akhirat.

Kita tidak dapat menafikan bahawa sains, teknologi, kemajuan, pembangunan dan peradaban materi dan fisik dapat member kemudahan dan kesejahteraan hidup kepada manusia. Tetapisemata-mata itu saja, belum dapat menjamin keselamatan, kebahagiaan dan keharmonian di dalam kehidupan bermasyarakat di dunia ini. Apalagi untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di Akhirat kelak.

Kalau kemajuan, pembangunan dan peradaban yang dibangunkan itu tidak bertunjangkan iman dan taqwa, artinya kita telah memutuskan diri dari Allah Taala. Maka Allah akan berlepas diri dari kita. Maka risiko yang kita akan tanggung berat, bermacam-macam masalah akan timbul dari usaha kita sekalipun usaha kita itu berhasil. Nampak lahirnya hebat, cantik, indah, mempesona, tapi ia sebenarnya sangat bermasalah dan menyusahkan manusia-manusia itu sendiri. Karena peradaban lahiriah semata-mata, ia sangat dekat dengan nafsu, ia sangat dicintai oleh nafsu manusia. Sedangkan nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan. Di antara kejahatannya ialah, rakus, tamak, bakhil, gopoh, melulu, mementingkan diri, angkuh, suka monopoli, suka berfoya-foya, cenderung kepada wanita, makan minum, kepada harta kemewahan, pangkat, derajat dan lainlain.

Kemajuan dan peradaban lahiriah kalau tidak ditunjang oleh iman dan taqwa, ia akan disalahgunakan dan merusakkan manusia. Ia akan melahirkan manusia yang sombong, bangga, tamak, bakhil, mementingkan diri, menindas dan zalim, suka zina, pembaziran, suka menumpuk-numpuk harta, menghina orang, lupa Allah dan Akhirat dan seribu satu macam kejahatan lagi. Dari penyakit-penyakit tadi akan lahir pula penyakit-penyakit lain sebagai reaksi dari gejala-gejala tadi. Orang akan sakit hati, dengki, korupsi, dendam, bertengkar, krisis, jatuh-menjatuhkan, tuduh-menuduh, fitnah-memfitnah, kemuncaknya pembunuhan.

Kalau sudah begitu, hilanglah kasih sayang, retak perpaduan, terkuburlah ukhuwah, matilah keharmonian. Keamanan dan keselamatan yang diidam-idamkan hanya tinggal di dalam impian semata-mata. Kemudian mengapa produk-produk sains dan teknologi tidak menyelamatkan manusia dan kemanusiaan? Mengapa produkproduk sains dan teknologi akhirnya membuat rusak manusia, kemanusiaan dan pembangunan? Bahkan mempercepat pembunuhan banyak manusia, kehancuran manusia dan kemanusiaan? Apakah Islam tidak ada panduan dalam membangun sains dan teknologi yang canggih, maju, bermanfaat, tapi selamat dan menyelamatkan, baik di dunia maupun di akhirat?

DR. Ing. Abdurrahman R. Effendi

‘Membangun Sains dan Teknologi Menurut Kehendak Tuhan’

About tetapbergerak
Seorang Mahasiswa yang berusaha menapaki jalan hidup ini dengan kepala tegak, bukan berarti sombong, bukan berarti arogan, apalagi egaliter, tapi mencoba teguh atas tantangan yang sudah didepan mata. Mencoba berfikir kritis, dan mencari solusi terbaiknya. Karena hanya dengan itu, saya masih bisa bergerak menyongsong perubahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: