Menggapai Puncak dengan Politik Tahan Diri

menangTarget pemenangan diri sepuluh tahun kedepan pastilah sangat berat. Di awali jalan berliku, aral melintang, bahkan duri dan bebatuan sudah siap menghadang. Tentu skenario yang matang lah yang harus ditempuh dari beragam jalur untuk melewati perbatasan. Dan memegang garis kebijakan yang akan menentukan rencana strategis tersebut, berharap berbuah hasil seperti yang telah dicanangkan.

Setiap manusia tentunya memiliki hak untuk bercita-cita. Bahkan sejak di usia dini pun kita telah mengenal apa yang namanya cita-cita. Berawal dari seseorang yang diidolakan, orang-orang terdekat dengan kita saat itu menanyakan dan menawarkan cita-cita yang sesuai untuk kita di masa yang akan datang. Seakan-akan ingin mengkloning kesuksesan orang tersebut ada pada kita dimasa kelak.

Tentu hal itu tak salah, karna mereka menginginkan kita menjadi yang terbaik dibanding generasi mereka. Namun, ketika kedewasaan telah tumbuh dalam diri kita, maka kita diberikan pilihan untuk menggapai cita-cita tersebut. Apakah melalui jalan pintas yang beresiko, atau mengikuti jalur standar yang sudah dibuat.

Angan, Cita, dan Mimpi

Antara kenyataan dan khayalan, seolah kita tak tersadar bahwa sesungguhnya kita memiliki potensi yang sangat luarbiasa, yang bahkan gunung pun tak sanggup memikulnya (Al Hasyr: 21). Bekal yang telah Allah titipkan kepada kita, seharusnya dapat kita maksimalkan dengan segenap potensi yang ada pada diri kita. Walaupun dunia ini fana dan fatamorgana belaka, tetapi kita dituntut untuk sukses di dunia ini. Seperti yang telah dicontohkan baginda Rasul dan para sahabatnya, mereka menjadikan dunia ini sebagai tempat bercocok tanam, agar di akhirat nanti dapat menuai panen sesuai dengan kadar amal di dunia. Bahkan beliau pun mengajarkan kepada kita agar semangat kesuksesan di dunia diimbangi dengan semangat untuk mencapai kesuksesan di akhirat nanti, sehingga kita mampu berlomba dalam kebaikan untuk membekali kehidupan akhirat yang abadi.

Antara kenyataan dan khayalan, bahwa angan, cita, dan mimpi adalah sebuah pemicu yang selalu mampu mengerakkan hati dan raga yang terlalaikan. Ketika kejenuhan dan kemalasan menghinggapi kita, maka hanya orang-orang yang memiliki angan, cita, dan mimpi sajalah yang mampu bertahan dari serangan yang membuahkan kelalaian ini. Namun sebailiknya, ketika pemicu itu telah tersulut sumbu pengorbanan, maka ia tak akan rela berlama-lama berada dalam kubangan kelalaian. Ia akan mencurahkan seluruh perhatiannya, yang dilengkapi dengan segenap pengorbanan yang nyata. Sehingga, ia selalu menghiasi harinya dengan kerja keras dan selalu berharap, agar Sang Maha Kuasa mengizinkan ia memperbaiki sejarah masa depannya.

Strategi Politik Tahan Diri

Yang dimaksud dengan politik tahan diri disini adalah suatu kemampuan pengendalian diri agar kita tak terjerumus dalam angan-angan kosong, yang tak memiliki esensi perubahan. Karna terkadang, syahwat dunia akan menjadi lebih dominan ketika kita tak mampu mengontrol diri kita. Tanpa diiringi visi akhirat, angan, cita, dan mimpi hanya akan terbiaskan ketika kita tertipu oleh gemerlapnya dunia. Disinilah arti pentingnya ‘politik tahan diri’ ada pada diri kita, sebagai palang pintu pertama ketika kita hendak melewati batas.

Seperti halnya Qarun, Fir’aun, dan manusia lainnya yang memiliki sifat yang sejenis, mereka menjadikan kekuasaan, kekayaan, wanita dan tahta sebagai puncak dari angan, cita, dan mimpi mereka. Berlomba-lomba dan berjerih payah agar dunia ada di hatinya. Sehingga ketika Sang Pemilik-nya hendak mengambil kembali dari dirinya, mereka tak kuasa melepaskannya, bahkan hingga membuat mereka ingkar dan melupakan apa yang telah dijanjikan Sang Kuasa di akhirat nanti, bahwa azhab Allah menantikan kehadiran mereka.

Dalam Surat An Najm ayat 26-27 difirmankan, “Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?  (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia”. Sungguh sangat indah ayat-ayat cinta yang Allah firmankan dalam Surat An Najm ini. Mengingatkan kepada kita bahwa sesungguhnya hanya Allah lah yang berhak menentukan kehidupan dunia dan akhirat kelak. Walaupun kita dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin, namun hanya kepada Allah sajalah kita patut berserah diri.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita dituntut untuk mampu seimbang dalam merancang masa depan. Sehinga tujuan asasi, cita-cita yang luhur, dan perubahan yang kita kehendaki adalah perubahan secara total dan integral, dimana unsur kekuatan kita dan kondisi yang ada saat ini bahu-membahu, juga bersatu padu untuk mewujudkan angan secara total untuk menggapai kesuksesan yang nyata, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Dan renungkanlah ayat ini…

“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa yang menhendaki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” QS. Asy Syura: 20

@kheededi

About tetapbergerak
Seorang Mahasiswa yang berusaha menapaki jalan hidup ini dengan kepala tegak, bukan berarti sombong, bukan berarti arogan, apalagi egaliter, tapi mencoba teguh atas tantangan yang sudah didepan mata. Mencoba berfikir kritis, dan mencari solusi terbaiknya. Karena hanya dengan itu, saya masih bisa bergerak menyongsong perubahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: