Pergeseran Tatanan Kehidupan Masyarakat Desa Citeureup sejak Keberadaan Kampus IT Telkom #1

Bagian Satu

Sekitar 20 tahun yang lalu sebelum keberadaan kampus STT Telkom (IT Telkom), Desa Citeureup merupakan desa yang mayoritas penduduknya memiliki mata pencahairan sebagai petani. Hampir sejauh mata memandang, bisa dipastikan yang terlihat adalah sawah dan empang, dengan beberapa titik komunitas masyarakat. Bahkan hingga kini pun usaha sebagai petani masih digeluti oleh sebagian masyarakat. Sehingga wajar jika kampus IT Telkom terkenal dengan sebutan ‘Kampus Mewah (Mepet Sapah)’ dikalangan mahasiswanya.

Menurut beberapa tokoh Desa Citeureup, yang notabene berada sejarawan di desa ini, dahulunya memiliki tatanan berkehidupan yang hade, ramah, sopan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang dipadukan antara norma agama dan norma adat. Seperti halnya desa lainnya yang berada di kawasan Sunda ini pun memiliki kebiasaan yang sungguh luarbiasa, yaitu gotong royong antar warganya yang sangat kuat dan tabu jika terdapat salah satu warganya masih ada yang dihimpit masalah perekonomian. Karena dengan kondisi daerah yang hampir mayoritas adalah sawah, maka bisa dipastikan Desa Citeureup ini jauh dari hiruk pikuk kegiatan manusia. Sehingga keakaraban antar masyarakatnya pun terjalin karena memiliki satu tujuan yang dilandasi beberapa kesamaan; kesamaan kultur budaya, kesamaan kondisi daerah, hingga kesamaan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup bermasyarakat.

Persfekif Perekonomian Masyarakat

Namun kini, kondisi tersebut sudah sangat sulit kita dapati di Desa Citeureup. Dengan keberadaan kampus IT Telkom sejak tahun 1992 lalu, setidaknya mengubah kultur budaya masyarakat sedikit demi sedikit. Perubahan ini dirasakan di setiap lini kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah disisi pekekonomian masyarakat. Warga yang dulunya memiliki kesibukan bercocok tanam, kini mereka merelakan lahan garapannya di jual ke investor luar daerahnya untuk mengubah ‘lahan hijau’ menjadi ‘lahan merah’. Bahkan dari tahun ke tahun, makin sedikit saja sawah yang mengelilingi kampus ini. Sehingga julukan yang dulunya elegan untuk didengar (Kampus Mewah), kini berubah menjadi ‘Kampus Merah’ (Mepet Rumah- kosan, red), yang justru kontradiktif sekali dengan julukan Kampus Biru Putih.

Pergeseran mata pencaharian yang terjadi di masyarakat ini memang dinilai oleh banyak kalangan sebagai perubahan yang sangat signifikan. Atau setidaknya, dengan kehadiran kampus IT Telkom di tengah-tengah masyarakat, terjadi pergeseran ekonomi yang mampu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat setempat, dan bahkan Desa Citeureup pun dinilai sebagai Desa yang mengalami peningkatan peradaban manusia yang sangat pesat dibandingkan dengan Desa lainnya di Kabupaten Bandung.

Namun, sisi positif yang dihadirkan oleh kampus IT Telkom ini, makin tahun makin berkurang dirasakan oleh masyarakat pada umumnya. Karena peningkatan ekonomi ini ternyata hanya dirasakan oleh kalangan masyarakat tertentu saja. Sebut saja mereka yang memiliki lahan sawah berhektar-hektar, merasakan secara langsung keuntungan yang mereka dapatkan dengan menjual lahan mereka ke pihak investor. Hampir ratusan juta mereka dapatkan dari hasil penjualan lahan tersebut, hingga mampu menghidupi kehidupan mereka sampai jauh beberapa tahun mendatang.

Tapi bagi kalangan masyarakat menengah kebawah, hal ini ternyata mengimplikasikan kondisi yang berbeda. Hingga kini, masih banyak kalangan masyarakat yang taraf hidupnya jauh dari berkecukupan. Kemiskinan dan pengangguran dapat kita jumpai dengan mudah di sekitar kampus kita. Bahkan ketika mobil mewah mahasiswa banyak lalu lalang di ‘Jalur Sukabirus’ (terinspirasi dari jalur Gaza yang penuh dengan permasalahan HAM), tidak sedikt anak-anak yang untuk mengenyam pendidikan saja sulit. Oleh karena itu, Kondisi ketidakseimbangan antara kehidupan apatisme mahasiswa yang kini terlihat dominan glamour, dengan kehidupan masyarakat inilah yang ternyata menyebabkan ruang pemisah antara mahasiswa dan masyarakat semakin lebar.

Nah inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi kita sebagai mahasiswa yang memiliki idealisme berbeda dengan masyarakat, apakah dengan kehadiran kita (kampus IT Telkom beserta mahasiswanya) menjadi pemicu terjadinya pergeseran tatanan kehidupan masyarakat yang tak beraturan? Atau mampukah kita sebagai intelektual muda menyeimbangkan kembali tatanan kehidupan antara mahasiswa dengan masyarakat? Ataukah lantas, kampus IT Telkom mampu menunjukkan kepada kita dan meningkatkan fungsi CSR-nya ditengah masyarakat (Corporate Social Responsibility) yang lama tak terdengar sebagai solusi atas permasalahan ini?

Oleh karena itu, tidak ada kata lain bagi kita selain terus beramal mewujudkan tatanan masyarakat yang seimbang, adil, dan sejahtera. Karena ini adalah tugas kita bersama sebagai mahasiswa, agent of change, director of change, atau apalah namanya. Karena dengan kehadiran kita sebagai mahasiswa, setidaknya mengambil peran atas pergeseran tatanan kehidupan masyarakat di sekitar kita. Sehingga, jika kita bergerak bersama atas nama civitas akademika IT Telkom, maka, solusi dan amal pembaharuan peradaban masyarakat madani (civil society) ada ditangan kita.

Salam Mahasiswa!
Q-KAMMI IT Telkom

About tetapbergerak
Seorang Mahasiswa yang berusaha menapaki jalan hidup ini dengan kepala tegak, bukan berarti sombong, bukan berarti arogan, apalagi egaliter, tapi mencoba teguh atas tantangan yang sudah didepan mata. Mencoba berfikir kritis, dan mencari solusi terbaiknya. Karena hanya dengan itu, saya masih bisa bergerak menyongsong perubahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: