Menulis, Terapi Mental Bagi Orang Yang Suka Demam Panggung?

‘Dedi, ayo maju ke depan kelas nak, coba kamu ceritakan sejarah kemerdekaan Indonesia yang telah ibu pinta tuk mencarinya di perpustakaan minggu lalu’ pinta Bu Desi kepada salah seorang muridnya yang sesuai dengan kesepakatan pe-er minggu lalu. Sentak saja, Dedi saat itu yang memiliki kepribadian agak pendiam dibanding teman-temannya kaget luar biasa bak mendapatkan teror dari polisi kepada maling untuk mengakui kesalahannya.

Dengan perasaan dag-dig-dug, ia pun memberanikan diri mencoba melobi Bu Desi tuk meminta kepada murid yang lainnya saja, dibanding ia yang maju ke depan kelas. Tapi tetap saja, Bu Desi yang lumayan garang itu pun memaksa Dedi untuk menceritakannya sebagai bukti kalau ia mengerjakan pe-er.

Dan setelah lama menunggu, akhirnya Dedi dengan perasaan enggan, mulai menceritakan sejarah perjuangan para pahlawan demi memperebutkan kemerdeaan dengan logat Jawa yang kental dan tersendat-sendat.

***

‘Nganu temen-temen,,,,’ aju Dedi memberanikan diri, ‘ngggg,,, aku lupa e ceritane..’. ‘wuuuu…’ Sentak saja kelas yang saat itu sunyi menanti cerita dari si Dedi malah riuh menertawakan Dedi karena kepolosannya, dan Bu Desi pun tak enggan memberi hukuman kepadanya. Padahal saati itu Dedi memilih berbohong kalau ia lupa ceritanya untuk segera mengakhiri penderitaan panas dingin (dan khawatir malah demam berkepanjangan) tampil di depan teman-temannya yang lain.

Bahkan hingga Dedi beranjak ke SMA pun ia masih malu-malu kucing tuk tampil di depan umum, mengutarakan pendapatnya. Trauma dicampur grogi menjadi padanan kata yang selalu terngiang dipikirannya ketika ia hendak berbicara di hadapan orang banyak. Dan sikap teman-temannya yang menertawai pun menjadi alasan kuat bagi Dedi untuk menghindari tampil di depan umum.

Karakter Kepribadian Vs Tekanan Mental

Lidah kelu, tubuh kaku, dan pikiran buntu seperti yang dialami oleh Dedi adalah salah satu kekurangan yang wajar terjadi pada manusia. Karena pastinya manusia selalu dihinggapi kesalahan, kealpaan, dan kelemahan. Inilah yang disebut dengn fitrah manusia, yang dengan kekurangan ini, Allah menginginkan kita untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Pun diksi yang hampir tersendat-sendat layaknya mobil jika dalam keadaan macet, merupakan ciri lain bahwa seseorang itu sedang mengalami suatu tekanan yang sering disebut dengan demam panggung. Selain itu, malu dan khawatir salah ucap menjadi tembok besar bagi seseorang untuk melewatinya. Sehingga, timbul keengganan baginya untuk mengutarakan pendapatnya di depan umum. Nah, jika dikaitkan kembali antara demam panggung yang hampir setiap orang pernah mengalaminya dengan pelakunya, maka banyak hal unik yang terjadi padanya.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, apakah demam panggung yang dialami oleh Dedi dan yang lainnya adalah suatu sifat bawaan yang menjadi karakter kepribadiaannya atau hanya tekan mental sesaat yang menjadikan ia sedikit depresi akibat kekurangannya?

Jika memang apa yang dialami oleh Dedi adalah karakter kepribadiannya, atau bawaan dari masa kecilnya, atau titisan dari orang tuanya atau bahkan dari nenek moyangnya, tetap saja ini adalah suatu anugerah yang patut disyukuri oleh Dedi dan siapapun yang memiliki permasalahan sama, karena dengan demikian ia memiliki tantangan hidup untuk ia lampaui dikemudian hari, yaitu kekurangan ia dalam berkomunikasi. Sehingga bukan berarti dengan kekurangan yang Dedi miliki itu menjadi justifikasi terhadap dirinya, bahwa ia memiliki kekurangan dalam berkomunikasi dan mutlak tak bisa diubah. Padahal, malah sebaliknya, jika saja Dedi atau siapapun yang memiliki permasalahan sama dalam berkomunikasi ini mau belajar perlahan-lahan, maka sekali lagi, kekurangannya akan menjadi titik tolak perubahan bagi dirinya, bahkan bisa saja ia menjadi orator ulung suatu saat nanti.

Sementara itu, jika kita melihat dari sisi yang berbeda, bisa jadi demam panggung yang sering dialami oleh Dedi dan sebagian orang adalah tekanan mental sesaat, atau kejutan yang tiba-tiba tanpa mampu ia kontrol. Sehingga adrenalin dan aliran darah menjadi semakin tidak karuan. Dan debar jantung pun semakin terpacu, Serta peluh keringat menjadi sulit untuk dikendalikan. Hal inilah yang wajar terjadi pada setiap orang dalam first speak-nya di depan umum. Walaupun terlalu banyak mengeluarkan ‘eee….’, ini menjadi pertanda bahwa ia sedang berusaha mengendalikan suasana dan memulai suatu pemikiran dalam komunikasinya. Maka dari itu, setelah ia mampu mengendalikan suasana dan emosinya, maka aliran komunikasi pastinya akan mengalir begitu saja dari bibirnya.

Alternatif Puyer Demam Panggung

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki kekurangan dalam komunikasinya. Namun ada satu hal yang mungkin terlupakan oleh banyak orang. Yaitu puyer alternatif dengan mencoba mengkomunikasikan maksud pemikirannya dengan bahasa tulisan. Ya menulis, karena dengan menulis ia akan mampu sepenuhnya mengontrol emosi dan tekanan mental yang terjadi padanya dibandingkan jika diutarakan dengan bahasa lisan.

Dengan bahasa tulisan, setidaknya kerangka pemikiran yang ia miliki dalam otaknya tersalurkan lewat jarinya. Tema, kalimat utama, hingga kalimat penyusunnya bisa ia rangkaikan menjadi satu bangunan tulisan yang kokoh yang saling mengkaitkan satu sama lain. Memang, walaupun bagi sebagian orang menulis bukanlah hal yang mudah, tapi sekali lagi, jika ia mau, pasti ia akan menuliskan isi pikirannya apa adanya. Mengalir layaknya air sungai dari beragam kanal menuju satu tujuan muara akhirnya.

Nah inilah yang dimaksud dengan terapi penyembuhan demam panggung. Semakin sering kita mengutarakan pikiran kita dalam bahasa tulisan, maka otak bawah sadar kita pun akan berusaha semaksimal mungkin untuk terus memotivasi kita mengutarakannya dalam bahasa lisan. Karena jika kita terbiasa dalam membangun kerangka pemikiran yang kita utarakan melalui bahasa tulisan, maka setidaknya kita pun melatih untuk merangkainya menjadi satu kesatuan utuh dalam bahasa lisan. Sehingga, langkah-langkah untuk mencapai maksud utama yang ingin kita utarakan melalui bahasa lisan tidak jauh berbeda dengan rangkaian pemikiran yang kita tuangkan dalam bahasa tulisan.

Sekali lagi, menulis bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Hanya orang yang tidak memiliki kemauan sajalah yang selalu memiliki banyak alasan untuk enggan menuliskannya dalam bahasa tulisan. Pun halnya dengan demam panggung yang hampir-hampir menjadi phobia awal bagi setiap orang dalam berkomunikasi lisan. Lidah kelu bisa diantisipasi dengan menulis yang tak jemu. Tubuh kaku bisa dilumasi dengan bahasa tubuh yang terpancar dalam bahasa tulisan. Dan pikiran buntu dapat dipecahkan dengan melatih menyusun kerangka pemikiran dalam suatu tulisan. Sehingga tidak ada lagi alasan bagi kita untuk enggan mengutarakan ide kita kepada orang lain, baik melalui tulisan maupun lisan.

Akan tetapi, jika masih saja dag-dig-dug ketika kita ingin mengutarakan pendapat kita kepada orang lain melalui bahasa lisan, walaupun sudah mati-matian menulis banyak buku atau kitab-kitab seperti empu gandring dan empu-empu lainya, maka jangan salahkan diri Anda, dan jangan mengucilkan diri Anda sendiri apalagi orang lain yang bernasib sama. Namun, bersyukurlah karena Allah menghendaki agar kita tidak tinggi hati karena piawai dalam berkomunikasi lisan. Dengan perasaan dag-dig-dug itulah yang akan memagari diri kita, agar kita tidak melampaui batas dalam berkomunikasi, dan mengembalikan indentitas kita kembali sebagai hamba-Nya yang bisa salah atau kepleset dalam berpendapat.

akheededi_

About tetapbergerak
Seorang Mahasiswa yang berusaha menapaki jalan hidup ini dengan kepala tegak, bukan berarti sombong, bukan berarti arogan, apalagi egaliter, tapi mencoba teguh atas tantangan yang sudah didepan mata. Mencoba berfikir kritis, dan mencari solusi terbaiknya. Karena hanya dengan itu, saya masih bisa bergerak menyongsong perubahan.

3 Responses to Menulis, Terapi Mental Bagi Orang Yang Suka Demam Panggung?

  1. danz evolution says:

    luar biasa bro…..

    semua itu bisa asal rajin berlatih.
    dan juga terapin metode “lakukan seperti yang ke 1000 kali dengan semagat yang pertama kali” kalo masih nerfes ke kamar mandi lonjak2 dan ucapkan aku bisa…
    rasa takut kalao tidak dilawan/dilakukan akan tetaptakut tuk selamanya..jadi tunggu apalagi action mulai detik ini..semoga sukses.

  2. dhiyak says:

    subhanallah..
    trimaksih ya atas tulisannya,alhamdulillah dapat pencerahan..

  3. Surya says:

    subhanallah…
    tulisan solutif yang memberikan pencerahan bagi kita yang punya pantangan dalam berkomunikasi di depan panggung, smoga bermanfaat dan mendapat pahala dari apa yang di informasikannya.. amien
    Taqobbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum minal aidin walfaidzin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: