Pergeseran Tatanan Kehidupan Masyarakat Desa Citeureup sejak Keberadaan Kampus IT Telkom #2

Bagian Kedua

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa keberadaan suatu kampus di tengah masyarakat pastinya akan menjadi pusaran peradaban di daerah kampus tersebut berada. Dalam kehidupan sosial saja misalnya, hampir dapat dipastikan corak kebudayaan yang menonjol di masyarakat diwarnai oleh keberagaman kebudayaan mahasiswa yang tinggal di daerah tersebut. Perlahan-lahan nilai kebudayaan asli masyarakat setempat tergeserkan oleh dominasi kebudayaan mahasiswa yang heterogen. Bahkan setiap tahunnya, pluralistik kehidupan mahasiswa mau tidak mau membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat.

Jika saja keberadaan mahasiswa melebur bersama dengan masyarakat dalam kehidupan sosial, maka setidaknya hampir setiap sisi kehidupan mahasiswa dan masyarakat akan beririsan dan saling melengkapi satu sama lain. Apalagi jika proses community development (pengabdian, pengembangan, dan pemberdayaan masyarakat) yang dilakukan oleh agent of chane benar-benar mengenai simpul masyarakat setempat. Sehingga pastinya sisi positif yang dihadirkan mahasiswa pun sangat dirasakan oleh masyarakat dalam setiap sendi peradabannya.

Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, dimana sikap apatisme mahasiswa lebih dominan terhadap kehidupan sosial masyarakat dibanding pencerahan yang dilakukannya, maka jangan harap mahasiswa dan masyarakat bergerak bersama demi terciptanya peradaban yang madani (civil society). Bahkan bisa jadi lebih buruk, yaitu semakin kecil harapan masyarakat terhadap keberadaan mahasiswa untuk meningkatkan taraf kehidupan sosial bermasyarakat. Maka dari itulah, kesenjangan sosial antara mahasiswa dan masyarakat semakin menjadi-jadi.

Kondisi Obyektif Moral Mahasiswa IT Telkom Saat Ini

Inilah yang terjadi di sekitar kampus kita tercinta. Sejak beberapa tahun terakhir hingga kini, hampir bisa dipastikan kebudayaan hedonis yang dibawa oleh mayoritas mahasiswa baru setiap tahunnya semakin di luar kontrol saja, bahkan hingga ke titik-desktruktif citra positif mahasiswa IT Telkom, yang dibangun sejak angkatan pendahulu yang terkenal dengan sikap santunnya.

Kini dengan mudahnya kita saksikan disepanjang Jalur Sukabirus mahasiswa dan mahasiswi berpakaian yang seharusnya dipakai di dalam kamar saja. Tak perlu disebutkan satu persatu, pastinya kalian sudah tau apa yang dimaksud. Kemudian ada pula yang bergandengan tangan dengan mesranya bak pengantin baru, bahkan hingga berpelukan tanpa malu ketika naik motor layaknya ia mengendarai motor itu hingga 300 km/jam seperti motoGP yang ada di tipi-tipi. Atau parahnya, ada berita mobil goyang yang sempat bikin ‘goyang’ kampus ini beberapa waktu lalu, atau bahkan ada mahasiswa dan mahasiswi yang sekamar berdua hingga larut malam (bahkan menginap) dengan alasan mengerjakan tugas, proyek, TP, atau apalah sebutannya. Menakjubkan bukan?!

Fenomena inilah yang seakan-akan menampar wajah lembaga dakwah di kampus kita. Atau memang benar-benar menampar diri kita sebagai aktivis dakwah. Hingga menjadi pertanyaan dan tanda seru besar bagi kita, ‘Kemana saja kalian wahai mahasiswa yang mengaku aktivis dakwah?! Apa yang sudah kalian lakukan demi Islam di lingkungan sekitar kalian?! Atau jangan-jangan kalian menghiraukan apa yang telah nampak di depan mata, kemudian mencari berbagai alasan pragmatis bahwa ini memang sudah jamannya demikian?!’

Entah, siapa yang tuli ataupun buta diantara kita terhadap fenomena ini, yang pasti seharusnya dengan keadaan inilah membuat cemburu hati kita, membuat miris hati kita, dan membuat geram diri kita, hingga membuat ghirah dakwah kita semakin berkobar ketika melihat saudara muslim lainnya hampir terjeremus ke lubang kemaksiatan. Bukan malah saling melemparkan pertanyaan, ‘Ini tanggung jawab siapa?! Mana wajihah yang berani mendesak perubahan ini?!’

Solusi alternatif: Bekerja Sama dalam Proyek Pembangunan Akhlak Umat

Bila saja berbagai lembaga yang mengatasnamakan Islam dan umat Islam punya kesungguhan untuk menggali jati dirinya, mengkritisi lingkungannya, dan bercermin pada sejarahnya –selain selalu berpaduan kepada dua sumber utama, Al Qur’an dan As Sunnah-, niscaya kita sebagai aktivis perubahan mampu merumuskan visi dan misi, penyusunan rencana, program, dan agenda aksi sampai kepada pembinaan pribadi dan pengkaderan, secara bersama atasnama berbagai lembaga, dan atau sesuai dengan peran masing-masing organisasi di kampus dan masyarakat ini.

Diantara banyaknya kerangka dasar kebangkitan umat yang telah diwariskan oleh ulama-ulama pendahulu kita, kini sudah saatnya lah kita mengutamakan aspek amal, bertahap dalam langkah, menghindar dari titik khilafiyah, dan benar-benar mau mensinergikan kekuatan kita untuk mendobrak dekadensi moral yang terjadi. Maka berikut adalah solusi alternatif yang dapat kita lakukan bersama:
1. Memaksimalkan peran pembinaan terhadap mahasiswa, dan berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas sasaran dakwah kita. Dengan tujuan membangun fondasi akhlak dalam kehidupan mereka. Karena jangan sampai kesempatan emas untuk membina (mentoring, MK, atau yang lainnya) kita hiraukan bahkan bermalas-malasan untuk membangkitkan ruh baru di tubuh mereka.
2. Memaksimalkan peran wajihah masing-masing, baik wajihah syiar, kaderisasi, maupun siyasi. Karena dengan begitu, kita akan mengatasi tantangan sesuai dengan persiapan yang menunjang keberhasilan dakwah secara keseluruhan.
3. Membentuk forum mahasiswa yang secara khusus mengkritisi dan mencari solusi atas permasalahan moralitas mahasiswa, baik di kampus maupun di masyarakat. Yang dengan forum ini kita akan saling memikul beban dan bekerja sama dengan organisasi mahasiwa lainnya (ormawa yang tergabung dalam KBM). Sehingga kita bisa memformulasikan masalah ini dari internal kampus dan bersamaan mengikutsertakan rekrorat dalam mencari solusi bersama.
4. Membentuk kekuatan kaum muslim yang ada di sekitar kampus kita, khususnya muslimin Jalur Sukabirus, baik mahasiswa ataupun masyarakat. Dengan harapan terbentuk ‘Muslim Unity in Sukabirus’ yang akan menjadi ujung tombak atas permasalahan umat. Sehingga, ada kesatuan sosial antara mahasiswa dan masyarakat dalam naungan Islam.
5. Menegakkan peraturan (regulasi) yang telah disepakati bersama. Misal, norma-norma adat dan agama yang berlaku di masyarakat, regulasi moral kampus yang dikeluarkan oleh rektorat, jam malam mahasiswa di SC atau ditempat lain, dan regulasi lainnya. Yang dengannya, ada sanksi tegas terhadap pelanggaran yang terjadi.
6. Mempersiapkan agenda dakwah sedini mungkin untuk menyambut dan membina mahasiswa angkatan selanjutnya.

Dan masih banyak solusi dan strategi lainnya jika kita mau memikirkan dan mencarinya bersama-sama. Kemudian mengaplikasikannya dengan amal nyata, agar kita tahu bagaimana respon mahasiswa dan masyarakat terhadap gagasan kita.

Oleh karena itu, bagi mereka yang terbiasa dengan kerja instan, mungkin gagasan ini tidaklah penting untuk direnungi dan diaplikasikan secara nyata. Tapi, rumusan yang kita bangun ini tentunya akan berproses dan akan memakan waktu, tergantung seberapa besar usaha dan komitmen kita untuk melakukan ishlah di tubuh umat ini. Jika demikian, maka tak ada lagi alasan bagi aktivis dakwah atau orang lain yang mengatakan bahwa para aktivis dakwah tidak memiliki agenda, perencanaan, ataupun program bagi kebangkitan akhlak umat. Wallahu’alam.

Terakhir taujih rabbani sebagai penutup gagasan ini:
• “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.” QS Yunus: 101
• “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu…” QS Al Isra’: 16
• “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” QS Al Anfal: 46

Jazakallah khairan…
Akhukum,
Akheededi_

About tetapbergerak
Seorang Mahasiswa yang berusaha menapaki jalan hidup ini dengan kepala tegak, bukan berarti sombong, bukan berarti arogan, apalagi egaliter, tapi mencoba teguh atas tantangan yang sudah didepan mata. Mencoba berfikir kritis, dan mencari solusi terbaiknya. Karena hanya dengan itu, saya masih bisa bergerak menyongsong perubahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: